Anak Karang, Kisah Inspirasi Penderitaan Berbuah Kesuksesan

sudah tiga semester ini, saya melakukan perjalanan ke barat, hampir tiap jum’at malam sabtu saya pergi ke yogyakarta dan balik lagi ahad/minggu malam senin. untuk berangkat kuliah di Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, setiap perjalanan “bolak-balik” tersebut saya selalu ada cerita-cerita perjalanan, baik cerita senang, duka, cerita lucu ataupun yang lainnya. hampir disetiap perjalanan saya harus bener-bener berjuang, berdesakan, berdiri dan melek-an. bisa dibayangkan betapa beratnya perjalanan ini ditambah rasa ngantuk dan capek sepulang bekerja.

demikian dengan perjalanan kemarin, dimana tahun baru dan awal semesteran jumlah penumpang yang sangat melonjak dan hampir saja aku tidak dapat kendaraan, karena bus-bus sangat penuh. namun gmn lagi, saya harus berangkat malam ini, ah kalau saja niat untuk mencari ilmu ini tak sekuat baja mungkin aku sudah berhenti, ditengah perjalanan ini saya mencoba mencari hiburan sambil bergelantungan di Bus, aku nyalakan Handphone, ku psang headshet, dan menyalakan Radio FM, ku cari channel yg menarik, dan akhirnya aku mendengarkan channel dari radio gita FM Jombang, dengan tema inspired story, ada motivasi menarik yg bisa ku ambil dari cerita ini, cerita lengkapnya seperti ini :

#Pada suatu hari seekor anak kerang di dasar laut mengadu dan mengaduh pada ibunya sebab sebutir pasir tajam memasuki tubuhnya yang merah dan lembek.
“Anakku,” kata sang ibu sambil bercucuran air mata, “Tuhan tidak memberikan pada kita bangsa kerang sebuah tangan pun, sehingga Ibu tak bisa menolongmu. Sakit sekali, aku tahu anakku. Tetapi terimalah itu sebagai takdir alam.”
“Kuatkan hatimu. Jangan terlalu lincah lagi. Kerahkan semangatmu melawan rasa ngilu dan nyeri yang menggigit. Balutlah pasir itu dengan getah perutmu. Hanya itu yang bisa kau perbuat”, kata ibunya dengan sendu dan lembut.
Anak kerang pun melakukan nasihat bundanya. Ada hasilnya, tetapi rasa sakit bukan alang kepalang. Kadang di tengah kesakitannya, ia meragukan nasihat ibunya. Dengan air mata ia bertahan, bertahun-tahun lamanya. Tetapi tanpa disadarinya sebutir mutiara mulai terbentuk dalam dagingnya. Makin lama makin halus. Rasa sakit pun makin berkurang. Dan semakin lama mutiaranya semakin besar. Rasa sakit menjadi terasa lebih wajar.
Akhirnya sesudah sekian tahun, sebutir mutiara besar, utuh mengkilap, dan berharga mahal pun terbentuk dengan sempurna. Penderitaannya berubah menjadi mutiara ;
air matanya berubah menjadi sangat berharga. Dirinya kini, sebagai hasil derita bertahun-tahun, lebih berharga daripada sejuta kerang lain yang cuma disantap orang sebagai kerang rebus di pinggir jalan.
*******************************************************************
Cerita di atas adalah sebuah paradigma yg menjelaskan bahwa penderitaan adalah lorong transendental untuk menjadikan “kerang biasa” menjadi “kerang luar biasa”.
Karena itu dapat dipertegas bahwa kekecewaan dan penderitaan dapat mengubah “orang biasa” menjadi “orang luar biasa”.
Banyak orang yang mundur saat berada di lorong transendental tersebut, karena mereka tidak tahan dengan cobaan yang mereka alami. Ada dua pilihan sebenarnya yang bisa mereka masuki: menjadi `kerang biasa’ yang disantap orang,
atau menjadi `kerang yang menghasilkan mutiara’. Sayangnya, lebih banyak orang yang mengambil pilihan pertama, sehingga tidak mengherankan bila jumlah orang yang sukses lebih sedikit dari orang yang `biasa-biasa saja’.
So..sahabat mungkin saat ini kamu sedang mengalami penolakan, kekecewaan, kesedihan, atau terluka karena orang2 dan hal2 di sekitar kamu.
Cobalah untuk tetap tersenyum dan tetap berjalan di lorong tersebut, dan sambil katakan didalam hatimu.
“Airmataku diperhitungkan Tuhan..dan penderitaanku ini akan mengubah diriku menjadi mutiara2… “

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *