Kebijakan Impor Batik “Jombangan”

cropped-cropped-IMG_6864_rs.jpgBaru-baru ini pemerintahan Kabupaten Jombang dibawah kendali Bupati – Wakil Bupati, Nyono Suharli Wihandoko – Hj. Munjidah Wahab mengeluarkan kebijakan kewajiban memakai seragam ‘batik khas Jombang’ bagi guru dan siswa sekolah di lingkungan Dinas Pendidikan Kabupaten Jombang  yang memicu kontroversi.

Munculnya kontroversi tentang seragam batik bagi guru dan siswa, salah satunya dari ketentuan yang diberlakukan. Model seragam antar sekolah dalam satu jenjang pendidikan diberlakukan tanpa ada perbedaan sama sekali. Model seragam, mulai dari jenis, motif, hingga warna kain sama persis, sehingga menghilangkan ciri dari masing-masing sekolah. saat ini seragam dengan paduan warna kuning dan hijau itu sudah mulai datang ke sekolah dari konveksi yang ditunjuk oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Jombang.

Proses penyediaan seragam yang disebut-sebut sebagai batik khas Jombang tersebut juga sarat praktek monopoli. Himbauan agar guru dan siswa memakai batik Jombangan sebagai bagian dari seragam sekolah bagi siswa dan seragam mengajar bagi guru, diikuti dengan dorongan untuk membeli pada salah satu pengusaha konveksi. Surat tentang seragam batik khas Jombang dalam redaksinya tidak berisi intruksi atau perintah dari pejabat di lingkungan Pemkab Jombang. Namun, pada bagian surat, terlampir surat penawaran untuk membeli seragam pada salah satu perusahaan konveksi yang beralamat di Kertosono Kabupaten Nganjuk.

Nah kebijakan inilah yang menurut saya kurang tepat. Saya tidak mempermasalahkan warna dari batik tersebut yang juga menjadi simbol dari partai pengusung Bupati – Wakil Bupati. Idealnya ketentuan kewajiban menggunakan batik Jombangan dapat berdampak pada kesejahteraan para pelaku UKM Jombang khususnya para pengrajin Batik di Jombang bukan malah melakukan himbauan untuk membeli seragam kepada perusahaan diluar Jombang.

Seperti kita ketahui bersama bahwa “Batik Khas Jombang” merupakan kekayaan budaya dan salah satu hasil kerajinan tangan yang berasal dari Jombang yang dikembangkan pada tahun 2000an. Batik Jombangan pertama kali dikenalkan oleh Hj. Maniati pendiri usaha batik dengan nama “Sekar Jati Star” yang berada di desa Jatipelem Kec. Diwek Jombang. Batik Jombang menggunakan motif dengan khas paten relief Candi Rimbi, yaitu model candi yang melambangkan pintu gerbang masuk Kerajaan Majapahit. Sedang motif yang dikembangkan berupa motif tawang dan kaning dengan warna dasar yang menekankan pada kehijauan dan kemerahan yang melambangkan kota Jombang (ijo abang (hijau merah)).

Oleh karena itu tidak ada alasan bagi pemerintah Jombang untuk memproduksi batik Jombangan dengan menggunakan jasa pengusaha diluar Jombang. Memberdayakan UKM Pengrajin batik asli Jombang sama halnya dengan ikut serta menjaga dan menghargai budaya asli Jombang sekaligus meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan bagi pelaku UKM Jombang.

Oleh: Mohamad Ali Murtadho

Dosen Sistem Informasi Unipdu Jombang

Referensi :
1. http://www.bangsaonline.com/berita/5416/seragam-batik-baru-di-jombang-diduga-sarat-monopoli

2. http://id.wikipedia.org/wiki/Batik_Jombang

Madrasah Dagangan

Meskipun sekrang aku tinggal di Jombang, namun intensitas pulang kerumah sangat jarang aku lakukan, padahal jarak antara kota jombang dengan rumah ku di Ds. Brangkal Tidak terlalu jauh, hanya butuh waktu sekitar 60 menit dengan mengendarai Motor. Banyak Tugas dan kerjaan yang aku tangani, mulai dari mengajar, mengelolah usaha dan kerjaan kerjaan lainnya membuatku jarang pulang, padahal niatanku hijrah dari malang ke jombang adalah agar aku bisa lebih dekat dengan kedua orang tua ku yang usianya sudah lanjut (semoga beliau diberikan umur yang panjang dan kesehatan serta istiqomah dalam ibadah).

Disaat longgar dan terutama hari kamis malam Jum’at akku berusaha untuk pulang kerumah selain sowan kerumah dan orang tua, aku sempatkan ziarah ke makan keluarga, mbah, buyut dan kakak yang sudah wafat lebih dulu. setiap ke makam itulah aku melintasi sekolah madrasah Ibtidaiyah “roudlotul ulum” Brangkal, tempat aku belajar semasa kecil. iya, memang makam umum di desa itu berdekatan dengan MI tersebut.

Alhamdulillah, MI tersbut sudah mulai agak bagus dibandingka ketika aku sekolah dulu. Tak banyak pelajaran dan kenangan yang aku ingat sewaktu aku di MI, namun ada beberapa kisah penting di MI yang turut mempengaruhi sampai aku dewasa saat ini. yang aku ingat, awal kelas 3 MI aku  di “jejer” (berdiri di depan sambil beridiri satu kaki) oleh Pak azizi (Kepala sekolah waktu itu, Alhamdulillah sampai saat ini beliau masih sehat) karena aku gak mampu membaca tulisan latin dan mengeja dengan baik. Pernah aku sampai nangis pula karena aku gak boleh pulang sebelum aku bisa baca satu halaman, meskipun akhirnya aku di ijinkan pulang dengan janji ketika orangnya masuk lagi aku harus bisa baca dan mengeja.

masa-masa itu memang aku lumayan “dhedel” (semcam istilah bodoh), orang tuaku sendiri sering  mengeluh dan memarahiku karena aku sulit mbaca dan gak titen. sehabis Magrib, Ibuku mengajari aku mengaji, di jambak, di cetot (dicubit) dibentak sudah setiap hari karena susahnya aku membaca huruf arab. aku nangis-nangis pun harus tetep melanjutkan bacaan. ya Allah….betapa bodohnya aku waktu itu.

masih inget dengan janjiku kepada pak azizi dan ketidak inginanku di jejer lagi, setelah ngaji dan sholat isya, aku ambil buku PMP (pendidikan moral pancasila) kalaw sekarang namanya pelajaran PPKn, ya karena pelajaran itu pak azizi yang mengajar. aku harus bisa, aku gak mau lagi di jejer, aku gak mau lagi di marahi dedepan kelas, aku harus bisa”

Sendirian di tempat sholat, belajar mengeja dan membaca… entahlah malam itu terasa cerah dan ringan banget hatiku, aku lupa itu malam apa, yang jelas aku merasakan suasan tenang, ennnaakk banget buat belajar, aku coba pahami huruf demi huruf, bacaannya pun aku titenni. entah berapa lama aku belajar, yang jelas aku sampai tertidur di sembayangan (tempat sholat). esoknya pun aku berangkat sekolah seperti biasa. pak azizi masuk dengan membawa penggaris panjang dan membawa buku. pelajaranpun di mulai. sudah biasa kalau pak azizi masuk suasana kelas tenang dan diam, tak ada satupun yang berani aneh-aneh, bertingkah sedikit dan bikin gaduh siap-siap kena pukul penggaris. belia sangat keras dalam mendidik waktu itu.

“ayooo tadho, maju”, ucap pak azizi, aku pun tersentak kaget. “seng liyani rungokno tadho moco” (yang lainnya dengarkan tadho baca) ucap lanjut pak azizi, akupun maju, deg deg an rasanya … bacaan basmalah mengawali suaraku, kata demi kata aku baca meskipun radak gradulan sampai satu halaman aku baca. “wes-wes” (bersambung…)